Tips Agar Aktivitas Keseharian  Bernilai Akhirat

Oleh: Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf, Lc, M.H.I

(Ketua DPW Wahdah Islamiyah DKI Jakarta-Depok)

Kehidupan dunia tidak mungkin bisa dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Al-Qur’an tegas mengutamakan kehidupan akhirat.

Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (TQS. 87: 17)

Tulis Ibnu Katsir, “Ganjaran dari Allah Ta’ala di akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada dunia ini. Sebab, pada dasarnya sifat dunia itu sementara dan akan hancur. Sebaliknya, akhirat itu mulia dan kekal. Bagaimana mungkin manusia yang berakal sehat mengutamakan sesuatu yang akan hancur atas yang kekal? Sehingga dia perduli kepada sesuatu yang akan segera pergi serta abai terhadap kehidupan yang kekal!?”

 

Di bagian yang lain, Al-Qur’an menjelaskan hakekat kehidupan dunia.

 

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (TQS. 6: 32)

 

Kalau demikian halnya, sudah seharusnyalah kehidupan kita di dunia ini benar-benar dioptimalkan untuk kehidupan akhirat. Kalau mampu, seluruh kehidupan dunia ini kita tukar dengan kebahagiaan akhirat. Tapi, bisakah kita beribadah dengan seluruh kehidupan dunia kita? Bukankah sebagian besar kehidupan kita justru bukan untuk ibadah ritual? Seperti shalat, puasa, zakat, zikir, dll? Sebagian besar waktu kita banyak habis buat pekerjaan dan aktivitas lainnya.

 

Ternyata bisa. Berikut ini tiga tips agar aktivitas kita di luar ibadah ritual bisa bernilai akhirat atau ibadah.

 

Pertama, ridha Allah Ta’ala dan kebahagiaan akhirat hendaknya menjadi tujuan akhir dari aktivitas kita. Tentang tujuan akhir ini, hadits berikut mengambarkannya.

 

Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa yang menjadikan kehidupan akhirat itu sebagai pokok perhatiannya, maka Allah Ta’ala akan menjadikan kaya dalam hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan sampai padanya kendati terpaksa. Sebaliknya, barangsiapa yang menjadikan kehidupan dunia itu sebagai pokok perhatiannya, maka Allah Ta’ala akan menjadikan kemiskinannya di depan matanya, menceraiberaikan urusannya, dan tidak ada bagian dunia yang sampai padanya selain yang telah ditakdirkan.” (HR. Anas bin Malik, Shahihut Tirmidzi)

 

Kedua, aktivitas dan kegiatan tersebut harus tunduk kepada pedoman syariat. Tidak mungkin beribadah dengan melakukan maksiat. Hadits berikut menjelaskan tips kedua ini.

 

“Pada hubungan suami-istri kalian terdapat pahala sedekah,” kata Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di depan Sahabatnya. Sahabat-sahabat yang hadir bertanya, “Ya Rasulullah, apakah seseorang yang melampiaskan hawa nafsunya mendapatkan pahala?”

 

Maka dengan bijak Nabi menjelaskan, “Kalau dilakukan kepada wanita yang haram, bukankah itu mendatangkan dosa? Begitu pula kalau dilakukan kepada wanita yang halal, itu mendatangkan pahala.” (HR. Muslim dari Abu Dzar al-Ghifari)

 

Pada penjelasan itu, Rasulullah mengajak Sahabat untuk berpikir kritis dengan menunjukkan batas antara pahala dan dosa pada pedoman halal dan haram.

 

Ketiga, tujuan dari aktivitas tersebut adalah kebajikan. Hal ini bisa kita temukan perinciannya dalam hadits berikut.

 

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu ‘anhu diceritakan bahwa seorang laki-laki jalan melewati Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Para Sahabat yang bersama beliau tertarik pada semangat serta kekuatan orang itu. Maka mereka berkata, “Ya Rasulullah, alangkah baiknya kalau laki-laki itu berjihad di jalan Allah!”

 

“Jika orang itu keluar rumahnya dalam rangka menafkahi anaknya yang masih kecil, dia di jalan Allah,“ Rasulullah menimpali. “Jika orang itu keluar untuk mencari nafkah dalam rangka berbakti kepada kedua orang tuanya yang sudah tua, dia di jalan Allah. Jika dia keluar dalam rangka mencukupi kebutuhannya, dia di jalan Allah. Tapi jika dia keluar dalam rangka riya serta sombong, maka dia di jalan syetan,” tutup Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. (Al-Albani, Shahihut Targhib)

 

Ternyata, niat-niat baik bisa menjadikan aktivitas mencari nafkah bernilai fii sabilillah. Sebagaimana niat buruk menjadikan aktivitas itu fii sabilis syaitan, wal ‘iyadzu billah.

 

Wallahu a’la wa a’lam.

 

Sumber: Wahdahjakarta.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *