Setiap tahun Sumpah pemuda diperingati di negeri mayoritas Muslim ini. Namun, peringatan itu tidak pernah mampu memberi makna yang mendalam  bagi banyak pemuda Muslim. Tentang bagaimana seharusnya memaknai keislaman mereka; apa seharusnya yang mereka seharusnya mereka perbuat dalam rangka mengejewantahkan keislaman mereka.

 

Pertama, Kewajiban Memahami Islam

Pemuda muslim wajib memahami Islam dengan benar. Untuk mengerti agamanya, pemuda Muslim harus memahami Islam dengan pemahaman yang murni dan bersih seperti yang dipahami generasi awal ummat Islam.

Banyak orang yang menzhalimi islam dengan memasukkan ke dalam Islam sesuatu yang tidak berasal dari Islam dan mengeluarkan darinya apa yang termasuk ajarannya yang prinsipil.

 

Dalam perjalanan Islam ini  ada saja orang yang meyandarkan sesuatu pada Islam padahal ia tidak berasal dari Islam. Begitu banyak perkara aneh dan asing yang dimasukkan dalam agama ini padahal ia bukan dari ajaran Islam. Ajaran-ajaran seperti ini telah merusak keindahan Islam dan mengotori kejernihannya. Di sana sini bid’ah-bid’ah seperti ini dicap sebagai bid’ah hasanah dan diberi  semboyang “menambah kebaikan itu adalah sesuatu yang baik”.

 

Padahal Nabi ummat Islam telah menekankan pada ummatnya agar tidak memberi tambahan apapun dalam agama ini. Sebab pada prinsipnya segala sesuatu yang mendapatkan tambahan berarti ia juga bisa menerima pengurangan. Bukankah  Allah ta’ala telah menyempurnakan agama ini. Allah ta’ala berfirman:

 

“Hari ini Aku telah sempurnakan agamamu bagimu. Dan telah Aku cukupkan nikmatKu atasmu. Dan Aku telah redhai Islam sebagai agamamu”. (Al-Maaidah:3)

 

 

 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama ini), karena sesungguhnya perkara-perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Ahmad).

 

 

 

Selain masalah aqidah yang merupakan asas dan pondasi ajaran islam, di sana juga ada perkara-perkara fardhu yang berkedudukan sebagai rukun Islam. Perkara-perkara fardhu ini bertingkat-tingkat. Ada fardhu ‘ain (kewajiban bersifat individual), ada pula fardhu kifayah (kewajiban yang bersifat kolektif). Ada sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat ditekankan) dan ada pula sunnah mustahabbah sunnah yang jika dikerjakan pelakunya mendapat pahala dan jika tidak maka tidak ada dosa baginya. Jadi persoalan fardu dalam agama ini tidaklah sederajat melainkan bertingkat-tingkat. Begitu juga larangan-larangan.

 

 

 

Maka untuk mengerti dan memahami Islam para pemuda Muslim harus menimba Islam dari sumbernya yang jernih dengan kembali kepada kitabullah dan sunnah RasulNya.

 

Kedua, Mengamalkan Islam

 

 

 

Apakah cukup bagi pemuda Muslim hanya sekedar mengetahui, membaca, meneliti sehingga kepalanya penuh dengan ilmu lalu tidak ada lagi aksi sesudah itu?

 

 

 

Tentu saja tidak. Islam menghendaki pengetahuan dan pengertian yang menembus ke lubuk hati sekaligus menggerakkannya untuk beramal. Hal ini seperti sinyalemen Allah tentang  para ulama yang mendalam ilmunya.

“Sesungguhnya yang paling takut pada Allah hanyalah para ulama”. (QS. Al-Fathir:28)

 

 

 

Jadi yang diinginkan oleh Islam adalah ma’rifah  yang melahirkan perasaan takut kepada Allah dan rasa takut itu membuahkan amal shalih. Nabi kita  pernah memohon perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat bagi pemiliknya seperti yang beliau sebut dalam doanya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung padaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari amal yang tidak diterima, dan dari  doa yang tidak dikabulkan”. (HR. Muslim)

 

 

 

Umar bin Khatthab pernah memohon perlindungan kepada Allah dari orang munafik yang berilmu. Lalu ditanyakan pada beliau, “Wahai Amirul Mu’minin, apa mungkin seseorang itu  munafiq tapi berilmu?” Ia menjawab, “Benar, yaitu alim lisannya tapi jahil hatinya”.

Dalam sebuah atsar di sebutkan

“Ilmu itu ada dua macam, ilmu yang ada pada lisan, ini adal;ah hujjah Allah terhadap anak Adam; dan yang kedua adalah ilmu yang ada dalam hati, dan inilah ilmu yang bermanfaat”.

 

 

 

Seorang pemuda Muslim, setelah ia mempelajari Islam dan memahaminya dan menjadi contoh dalam kehidupan lantas orang-orang melihatnya, maka mereka akan berkata, ”Lihatlah, betapa indah ajaran Islam, alangkah bagusnya adab Islam, alangkah mulianya akhlak Islam!” Dengan begitu satuan-satuan ajaran Islam teraplikasi dalam tingkah laku perbuatan.

 

 

 

Di Korea selatan Islam masuk melalui pergaulan dan pengaruh. Pada mulanya di sana ada tentara-tentara Muslim Turki yang bertugas pada perang Korea. Pada saat-saat tertentu orang Korea melihat para tentara Turki pergi bersuci dengan membasuh muka, tangan dan kaki, lalu berbaris dengan khusyu, tertib dan teratur. Melihat pemandangan itu mereka bertanya, “siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang Muslim”. Mereka bertanya lagi, ”Apakah Islam itu?”. Lalu diperkenalkanlah Islam itu kepada mereka sesuai dengan pengetahuan  yang dimiliki oleh tentara Turki Muslim itu. Setelah itu masuklah ke dalam Islam beribu-ribu orang korea karena adanya keteladanan yang sangat bagus itu.

 

 

 

Beginilah seharusnya lmu yang benar, senantiasa menyatudengan amal.

 

Ketiga, Mendakwahkan Islam

 

 

 

Kewajiban pemuda Muslim yang ketiga adalah berdakwah ke jalan Islam. Tidak cukup seorang Muslim itu shalih secara pribadi. Islam memandang bahwa tidak cukup seseorang memperbaiki diri sendiri saja. Tetapi ia seharusnya berpikir agar orang lain selain dia bisa menikmati manisnya Islam.

 

 

 

Karena itu, wajib bagi pemuda Muslim mempekerjakan dirinya demi tersebarnya Islam, demi agar orang-orang selain mereka juga merasakan indahnya Islam.

 

 

 

Setelah itu, setiap pemuda harus sadar bahwa usahanya berdakwah pasti akan mendapatkan rintangan, kecil atau besar. Sebab itu, para pemuda harus menyertai usahanya menyebarkan Islam dengan kesabaran yang tinggi. Inilah mungkin rahasianya kenapa Allah dalam surah al-‘Ashr merangkai pesan saling mewasiatkan dalam kebenaran dengan pesan saling mewasiatkan dalam kesabaran. Sebab ini adalah tugas yang berat dan besar. Karena pada zaman kita ini banyak manusia yang berpaling dari kebenaran, banyak manusia yang berpaling meninggalkan agamanya, dunia memalingkan mereka dari mengingat Allah, banyaknya pengambat kebaikan serta banyaknya sarana-sarana yang memalingkan orang dari agama Allah.

 

 

 

Karenanya tugas mengajak manusia ke dalam Islam ini adalah tugas yang tidak mudah dan ringan. Mereka yang mencoba hidup iltizam sesuai ajaran Islam pasti dianggap aneh bahkan dtuduh dengan tuduhan yang membunuh karakter mereka. Sementara itu, mengambil sikap diam dan membiarkan jauhnya ummat dari Islam bukanlah sikap yang terpuji.

 

 

 

Dengan begitu, sudah seharusnya setiap pemuda Muslim membulatkan tekad agar tetap berpegang teguh pada Islam dan menyeru orang lain meski banyak tantangan yang datang dari berbagai arah. Seharusnya setiap pemuda yang sadar menjadi juru dakwah harus tabah dan  kuat. Karena demikianlah tabiat dakwah ini. Luqman al-hakim berkata pada anaknya dalam firman Allah:

“Wahai anakku dirikalah shalat, serulah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari kemungkaran, dan sabarlah dari apa yang menimpamu” (Qs. Luqman 17).

 

Keempat, tolong menolong dan saling terikat.

 

 

 

Bagi para pemuda yang telah bertekad mempelajari dan memahami Islam dengan benar, mengimaninya dengan mendalam, hendaknya senantiasa  saling menasehati  dan menyeru orang lain kepada Islam.  Hendaklah para pemuda melengkapinya dengan sikap tolong-menolong di antara sesamanya dan memiliki rasa saling terikat.

 

 

 

Tugas Islam tidak bisa dialakukan secara individu melainkan harus dilaksanakan secara berjamaah. Dan yang dimaksud dengan amal jama’i di sini adalah adanya ikatan persaudaraan antara satu dengan yang lain. Yaitu saling mencaintai karena Allah, saling mengunjungi karenaNya, bersama-sama dalam perjuangan serta saling berkorban karena Allah.

 

 

 

Tanpa ini semua kita tidak mungkin melaksanakan tugas dan beramal dengan baik sebab tangan itu kalau hanya sebelah tidak mungkin mampu saling bertepuk. Allah berfirman,

“Orang kafir itu sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (wahai kaum Muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”.(Al-Anfaal 73)

 

 

 

Mereka -orang-orang kafir- bekerja sama, saling melindungi, menolong antara satu dengan  lain. Semestinya kita kaum Muslimin juga harus saling melindungi, tolong menolong, dan bantu membantu.

 

 

 

Dizaman dimana kekuatan kebathilan saling bersatu padu meminggirkan Islam bahkan menghancurkannya serta memberangus eksistensinya, sudah sepantasnya jika para penyeru Islam untuk bersatu, bergandeng tangan menghadapi musuh-musuhnya. Jika perbedaan yang ada ditengah-tengah ummat ini masih bisa ditolerir,  maka hendaknya mereka saling berlapang dada. Tetapi jika perbedaan itu pada persoalan-persoalan yang prinsipil dan mendasar, maka mengedepankan sikap tanashuh (saling menasehati dalam kebenaran) adalah jalan yang paling tepat disaat kita menghadapi musuh dari berbagai arah.

 

 

 

Inilah beberapa kewajiban pemuda Muslim. Uraian singkat ini mungkin sederhana, namun diharapkan mampu memberi arah yang jelas ke mana seharusnya usia berharga dan potensi para pemuda disalurkan.

 

Diolah dari tulisan Waajibu syabaabil Muslim  (Al-Balagh, Edisi : 52)

 

Sumber dari: https://wahdah.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *